UNIVERSITAS AIRLANGGA



Detail Article

AntroUnairDotNet

ISSN 2303-3053

Vol. 3 / No. 1 / Published : 2014-02

Order : 13, and page :1 - 12

Related with : Scholar   Yahoo!   Bing

Original Article :

Makna pemberian marga dalam adat batak toba (studi kasus kepada perantau batak toba di surabaya)

Author :

  1. Evangeline Ririsanna Hutabalian*1
  1. Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Abstract :

Abstract  Toba Batak society are often found in large cities such as Surabaya, they go abroad to get a change in improving quality of life or standard of quality of life. In the migrated concept, culture and characteristics such as intermarriage among youths in Surabaya become no ethnic boundaries, regional system, over the island nation even to make them choose to marry bylocal tribe where they wander to live. All of the thesis is qualitative, so the process of elaboration of the meaning, value and interpretation in a ceremony highlighting the clan based on typical Batak culture that will never leave their culture although not married to a tribal it is taboo for the Batak’s region. However , through the provision of this genus of Toba Batak people who live in Surabaya still believe that in a traditions is carried out believed to a major impact in their mind and bodysoul. As a result of these differences in mind also environment which they live to experience the process of granting indigenous clans to gain recognition in the Toba Batak family. This is all have to be done because in addition to inheritance rights also requires the involvement of indigenous is a role in the rights and obligations on the basis of DalihanNa Tolu . Marga (clan) also become an important reference in the basic marriage and to the point in deciding the most respected, so theHamoraon ,Hasangapon , andHagabeon in their life can be realized. This is the only hope of every person Batak Toba overseas . Keywords : intermarriage, granting clan , Overseas     Abstrak   Masyarakat Batak Toba banyak dijumpai di kota perantauan seperti dikota Surabaya, mereka merantau untuk mendapatkan perubahan dalam meningkatkan kualitas hidup atau standart quality of life. Dalam konsep Rantau tersebut budaya dan ciri khas seperti pernikahan antar suku dikalangan muda mudi di Surabaya tidak mengenal batas suku, kedaerahan, pulau bahkan sampai antar negara yang membuat mereka memilih untuk menikah dengan suku setempat dimana mereka merantau. Keseluruhan isi skripsi bersifat Kualitatif, sehingga proses penjabaran tentang makna, nilai dan interpretasi dalam upacara pemberian marga terlihat menonjolkan sisi khas budaya Batak yang tidak akan pernah meninggalkan budayanya walaupun menikah tidak dengan satu suku yang tabu bagi kalangan masyarakat Batak. Namun, lewat pemberian marga ini masyarakat Batak Toba yang tinggal di Surabaya masih menyakini bahwa dalam suatu tradisi yang dilaksanakan dipercayai memiliki dampak besar dalam jiwa dan raga. Akibat pemikiran ini perbedaan lingkungan yang mereka tinggali mengalami proses adat pemberian marga untuk mendapatkan pengakuan dalam keluarga Batak Toba. Hal ini dilakukan karena selain menuntut hak waris juga terlibatnya peran adat dalam hak dan kewajiban atas dasar Dalihan Na Tolu. Marga juga menjadi acuan penting dalam dasar pernikahan dan menjadi titik dalam menentukan untuk yang paling di hormati, sehingga Hamoraon, Hasangapon, dan Hagabeon dalam kehidupan mereka dapat terwujud. Inilah yang menjadi harapan disetiap orang Batak Toba di perantauan.             Kata Kunci : Pernikahan Antarsuku, Pemberian Marga, Perantau  

Keyword :

Pernikahan Antarsuku , Pemberian Marga, Perantau,


References :

  1. Geertz, C , (1973). Interpretation Of Cultures. : . New York : Basic Books
  2. Gultom, Rajamarpondang, (1992). Dalihan Na Tolu Nilai Budaya Suku Batak. Medan : Arman Press
  3. Haviland, William. A, (1999). Antropologi Jilid 1. Jakarta : Erlangga
  4. Koentjaraningrat , (2000). Beberapa pokok Antropologi Sosial. Yogyakarta : Dian Pustaka




Archive Article

Cover Media Content

Volume : 3 / No. : 1 / Pub. : 2014-02
  1. Strategi intervensi tim patroli air kali surabaya di kota surabaya
  2. Jaringan sosial prostitusi peran dan fungsi mucikari di lokalisasi sanggrahan tretes
  3. Strategi adaptasi pendega pasca bencana lumpur lapindo (studi deskriptif di desa tambak kalisogo kecamatan jabon kabupaten sidoarjo)
  4. Korelasi antara tinggi badan dan panjang jari tangan
  5. Dilema pedagang sayur dan buah di pasar induk puspa agro, kabupaten sidoarjo, jawa timur
  6. Keterkaitan kebiasaan dan kepercayaan mengunyah sirih pinang dengan kesehatan gigi
  7. Pengaruh aktivitas pengayuh becak dan lamanya bekerja terhadap munculnya stress markers pada calcaneus
  8. Makna simbolik ritual ngobur tamoni (studi etnografi ritual ngobur tamoni di kelurahan pajagalan, kecamatan kota sumenep, kabupaten sumenep)
  9. Perubahan masyarakat dan kebudayaan terhadap tradisi kesenian tiban (studi kasus di desa banggle, kecamatan kanigoro, kabupaten blitar)
  10. Kesenian “damar muncar” (makna simbolik kesenian damar muncar bagi masyarakat desa lembor kecamatan brondong kabupaten lamongan)
  11. Metalhead (studi deskriptif gaya hidup pendukung subkultur metalhead di kota surabaya)
  12. Makna pemberian marga dalam adat batak toba (studi kasus kepada perantau batak toba di surabaya)
  13. Makna penggusuran menurut masyarakat miskin kota surabaya (studi kasus pada warga miskin pinggir rel korban rencana penggusuran double track oleh pt. kai dalam perspektif konstruksi sosial berger di kelurahan sidotopo)
  14. Pola makan pada ibu hamil dan pasca melahirkan di desa tiripan kecamatan berbek kabupaten nganjuk
  15. Kontribusi buruh wanita di industri perakitan lampu untuk ekonomi keluarga (studi deskriptif di industri perakitan lampu di kelurahan kedung baruk, kota surabaya)
  16. Pembentukan disiplin belajar anak sekolah dasar oleh ibu pekerja (studi di rt 2, desa sedengan mijen, kecamatan krian, kabupaten sidoarjo jawa timur)
  17. “makna daeng dalam kebudayaan suku makassar”
  18. Penerapan metode sentra dan calistung untuk anak tk a dan b futuhiyah di desa kloposepuluh, kecamatan sukodono, kabupaten sidoarjo, jawa timur
  19. Penerimaan diri penderita dan anggota keluarga penderita kusta di kecamatan sumber, kabupaten rembang, provinsi jawa tengah