Catalog :




Detail Article

Journal Of Emergency

ISSN 2301-7864

Vol. 1 / No. 1 / Published : 2011-12

Related with : Scholar   Yahoo!   Bing

Original Article :

The optimum need of ringer lactat fluid for limited resusitation (permissive hypotension) in heavy bleeding shock wich causes the most minimum increase of blood lactate

Author :

  1. Dewangga Ario*1
  2. Vicky Sumarki Budipramana*2
  1. Mahasiswa
  2. Dosen

Abstract :

Pendahuluan: Syok perdarahan berat merupakan komplikasi yang sering didapatkan pada trauma. Penatalaksanaan cairan pada syok perdarahan berat adalah dengan melakukan resusitasi agresif dengan memberikan kristaloid sejumlah 3x lipat dari estimate blood loss. Namun resusitasi agresif ini memiliki beberapa kerugian yaitu terjadinya rebleeding, koagulopati, hipotermia, serta cedera reperfusi. Pada dekade terakhir, prinsip penatalaksanaan ini mulai berubah dengan adanya konsep resusitasi terbatas (permissive hypotension) dengan memberikan cairan minimal yang sudah memberikan perfusi jaringan yang cukup. Laktat darah digunakan untuk menentukan resusitasi hipotensif yang adekuat. Namun, berapa jumlah cairan minimal yang harus diberikan pada syok perdarahan berat yang dapat memberikan perfusi jaringan yang cukup sehingga tercapai tujuan dari resusitasi hipotensif? Tujuan: Menentukan kebutuhan optimal cairan ringer laktat untuk resusitasi terbatas yang diberikan pada syok perdarahan berat yang menimbulkan kenaikan laktat darah paling minimal pada kelompok perlakuan tertentu. Metode: Studi eksperimental pada 6 kelompok kelinci yang dibuat mengalami syok perdarahan berat (diambil darah sebanyak 30% EBV), di mana kehilangan darah akan diresusitasi dengan jumlah cairan ringer laktat yang berbeda berdasarkan kelompoknya (100%, 70%, 60%, 50%, 40%, 30%). Setelah 4 jam paska resusitasi, darah vena diperiksa kadar laktat darahnya. Hasil: Pemberian RL sebanyak 60% dari resusitasi agresif (100%) memberikan nilai laktat terkecil dengan mean 2.75 mmol/l (p < 0.05); mean pada RL 100% yaitu 7,35 mmol/l; 70% = 4,25 mmol/l; 50% = 6,38 mmol/l; 40% = 18,45 mmol/l; 30% = 20,23 mmol/l (anova, (p < 0,05). Tidak didapatkan perbedaan signifikan antara pemberian RL 60% dengan 70%, namun didapatkan perbedaan signifikan pemberian RL 60% dengan 50% (LSD, p < 0,05). Kadar laktat 7,60 mmol/l sebagai cut off outcome mortalitas setelah 4 jam paska perlakuan dengan sensitivitas 87,5% dan spesifitas 100% (ROC, p < 0,05).

Keyword :

resusitasi terbatas, laktat darah, cairan ringer laktat, syok, perdarahan berat,


References :

  1. Deakin CD, (2004). Resuscitation of the patient with major trauma. In: Colquhoun MC, Handley AJ, Evans TR, editors. ABC of resuscitation. London : BMJ Publishing Group
  2. Bongard F, (2000). Shock and resuscitation. In: Demetriades D, asensio JA, editors. Trauma management. 1st ed. Texas : Texas: Landes Bioscience
  3. Basket JF, Nolan JP, (2002). Hypovolaemic shock. In: Driscoll P, Skinner D, Earlam R, editors. ABC of major trauma. 3rd ed. London : BMJ Publishing Group


   


Archive Article

Cover Media Content

Volume : 1 / No. : 1 / Pub. : 2013-07
  1. The correlation between sepsis resuscitation bundle application in patients with sepsis with the therapy results measured by microcirculation lactate parameter serum
  2. Variasi antropometri, wajah indonesia dan sefalometri sebagai data dasar pada rekonstruksi trauma maksilofasial
  3. Procalcitonin diagnostic test value as an early detection of sepsis in severe burn injury
  4. The relation of tympanic membrane thermometry with the prevalence of metabolic acidosis in multiple trauma patients
  5. The effectiveness of electrolyzed oxidized water (eow) as an antiseptic to bacteria commonly found in burn wounds
  6. The optimum need of ringer lactat fluid for limited resusitation (permissive hypotension) in heavy bleeding shock wich causes the most minimum increase of blood lactate
  7. The in vitro changes of blood clotting factors of whole blood with viscoelastometry examination
  8. The effectiveness of ketamine dose 0.25 mg/kg body weight intravenous as a therapy of shivering during spinal anesthesia in sectio caesaria surgery