Catalog :




Detail Article

Jurnal THT - KL

ISSN 23378417

Vol. 1 / No. 1 / Published : 2008-01

TOC : 5, and page :32 - 40

Related with : Scholar   Yahoo!   Bing

Original Article :

Management of nasal polyp

Author :

  1. Diar Mia Ardani*1
  2. Dwi Reno Pawarti*2
  1. Dep/SMF Ilmu Kes. THT-KL FKUA-RSUD Dr. Soetomo
  2. Dosen Fakultas Kedokteran

Abstract :

Polip hidung merupakan suatu penyakit  inflamasi kronik pada membran mukosa hidung dan sinus paranasal. Bentukan polip bisa bulat atau lonjong dengan permukaan licin dan warna translusen seperti agar-agar. Ahli lain menyebutkan bahwa polip adalah penonjolan mukosa rongga hidung yang panjang bertangkai dan merupakan pseudotumor. Kata polip sendiri berasal dari bahasa Yunani “poly-pous” yang artinya berkaki banyak. Sejak jaman Hipocrates th 460-370 SM. Demikian juga di Mesir dan India sejak 1000-4000 th SM. Angka kejadian polip hidung di Eropa 1-2% sedangkan di Inggris 1-20%. Di Indonesia sendiri belum ada yang pasti tapi di RSUDD Syaiful anwar ditemukan kasus baru polip hidung sebesar 4-6% dari seluruh kasus baru dalam kurun waktu 1997-1998, sedangkan di RSUD Dr.Soetomo pada kurun waktu Januari 1984- Desember1985 didapatkan 340 penderita polip yang dioperasi, umur terbanyak 10-30 th ( 73,2%) dimana laki-laki lebih banyak daripada perempuan 3:2. Sedangkan pada kurun waktu Januari 2006- Desember 2006 terdapat 55 kunjungan penderita polip hidung di URJ THT-KL-KL RSUD Dr.Soetomo.  Polip  hidung ini meski sudah lama ditemukan tetapi sampai saat ini faktor penyebab dan patogenesisnya belum diketahui secara pasti. Beberapa faktor yang diduga berperan sebagai penyebab antara lain alergi, radang kronik, ketidakseimbangan vasomotor, dan perubahan polisakarida. Sejauh ini terapi polip ada dua, yaitu konservatif dan operatif. Tetapi etiologi dan patogenesis polip yang berbagai macam inilah yang menyebabkan ketidakpastian sehingga terapi polip hidung tidak memuaskan. Sekalipun sudah dioperasi, polip masih sering kambuh. Untuk itu pengenalan polip hidung penting sekali dalam kaitannya dengan diagnosis dan terapinya. Kesalahan diagnosis dapat menimbulkan tindakan terapi yang kurang tepat. Dalam referat ini akan kami bahas mengenai etiopatogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan polip hidung

Keyword :

polip nasi,


References :

  1. Balllantyne J, (1979). Nasal polyposis In: Ballantyne J, Groves J. eds. Scoot Brown’s Diseases of The Ear, Nose and Throat 4th ed The Nose and Sinuses.. p. 25-234 : London: Butterworths
  2. Irawati N., (2002). Peranan infeksi dan inflamasi pada polip nasi. p. 83-86 : Dalam : Retno, D ed. Pertemuan Ilmiah Nasional Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia Jakarta
  3. Suheryanto R., (1999). Efektifitas pengobatan polip nasi dengan menggunakan kortikosteroid . p. 578-590 : Dalam: Bambang , Sofyan, dkk eds. Kumpulan naskah ilmiah Konggres Nasional XII. Semarang
  4. Mygind N., (1981). Nasal polyp. In: AW Frankland ed. Nasal Allergy 2nd ed.. p. 233-238 : Oxford: Blackwell Scientific publications
  5. Mackay SI, Lund VJ., (1997). Imaging and staging in: Mygind N, Lildholdt T eds Nasal Polyposis 1st ed. . p. 137-143 : Copenhagen: BMJ


   


Archive Article

Cover Media Content

Volume : 1 / No. : 1 / Pub. : 2008-01
  1. Additional low power laser on standard treatment of rhinogenic acute maxillary sinusitis
  2. Recurrent respiratory papilloma on 93 times of microlaryngeal surgery (case report)
  3. Removal of esophageal foreign body on kyphoscoliosis patient (a case report)
  4. Diagnosis and management of parapharyngeal abscess
  5. Management of nasal polyp