Catalog :




Detail Article

Jurnal THT - KL

ISSN 23378417

Vol. 5 / No. 3 / Published : 2012-09

TOC : 4, and page :170 - 186

Related with : Scholar   Yahoo!   Bing

Original Article :

The role of food elimination diet on diagnosis and management of allergic rhinitis

Author :

  1. Dwi Reno Pawarti*1
  2. Suryantoko*2
  1. Dosen Fakultas Kedokteran
  2. Mahasiswa Fakultas Kedokteran

Abstract :

Rinitis alergi (RA) sesuai definisi menurut World Health Organization - Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma (WHO ARIA) tahun 2001 adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE.1                    Penyakit alergi di bidang Telinga, Hidung dan Tenggorok - Bedah Kepala Leher (THT-KL) banyak dijumpai pada praktek sehari-hari. Meskipun penyakit alergi di bidang THT-KL ini tidak mengancam jiwa, namun relatif mengganggu kehidupan sehari-hari karena menurunkan kualitas hidup penderita, biaya pengobatan relatif tinggi dan upaya penyembuhan yang lama serta hasilnya sering kurang memuaskan. Penyakit alergi di bidang THT-KL, khususnya RA tidak jarang berjalan kronis, progresif serta menimbulkan komplikasi pada organ sekitarnya.2 Berdasarkan cara masuknya alergen dibagi atas : alergen inhalan, alergen ingestan, alergen injektan serta alergen kontaktan.1 Pada umumnya alergen penyebab RA pada anak adalah alergen ingestan dan paling banyak diderita oleh anak yang berusia kurang dari 1 tahun.3 Alergi makanan terjadi pada 1-2 % pasien dewasa dan kurang lebih 8 % pada pasien anak-anak berusia kurang dari 6 tahun. Reaksi imunologis akibat alergi makanan bisa menyebabkan berbagai gejala yang timbul pada kulit, saluran gastrointestinal dan saluran nafas diantaranya adalah RA.4 Diagnosis pasti alergi terhadap makanan hanya bisa dipastikan dengan Double Blind Placebo Control Food Challenge ( DBPCFC) atau dengan eliminasi provokasi makanan. Penanganan terbaik pada penderita alergi makanan adalah dengan menghindari makanan penyebabnya (diet eliminasi).5 Reaksi alergi ini disebabkan berbagai macam faktor dan tergantung interaksi berbagai faktor tersebut yang dipengaruhi secara genetik dan bisa berubah terus dari waktu ke waktu. Diagnosis dan penanganan RA akibat alergi makanan sering kurang memuaskan karena masih banyak faktor penyebab yang belum terungkap.2 Tujuan dalam penulisan tinjauan pustaka ini adalah untuk mengkaji mengenai peranan diet eliminasi alergi makanan pada diagnosis dan terapi RA.

Keyword :

Diet Eliminasi Alergi Makanan, Rinitis Alergi,


References :

  1. Baratawidjaya KG, Rengganis I., (2010). Reaksi Hipersensitivitas. Dalam : Baratawidjaya KG, Rengganis I, ed. Edisi 9.. hal. 369-397 : Jakarta: Balai Penerbit FKUI
  2. Judarwanto W, (2011). Alergi debu, dingin atau alergi makanan. Accessed October 14, 2011 : http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2011/02/25/alergi-debu-dingin-atau-alergi-makanan
  3. Chingi C, Demirbas Duygu, Songu M., (2010). Allergic rhinitis caused by food allergies.. 267 : 1327-35 : European Archives of Oto-Rhino-Laryngology
  4. Ahadiah TH, Sumantri RD, (2000). Rinitis alergi pada anak.. 6 : 14-21 : Media perhati
  5. Irawati N, Kasakeyan E, Rusmono N., (2007). Rinitis alergi. hal. 128-34 : Jakarta : Balai penerbit FK UI


   


Archive Article

Cover Media Content

Volume : 5 / No. : 3 / Pub. : 2012-09
  1. Profiles of upper respiratory tract papilloma on department of otorhinolaryngology - head and neck surgery, faculty of medicine university of airlangga/dr. soetomo general hospital jawa timur (january 2006 - december 2010 period)
  2. Rinosinusitis akut dengan komplikasi abses periorbita (laporan kasus)
  3. Ramsay hunt syndrome (a case report)
  4. The role of food elimination diet on diagnosis and management of allergic rhinitis
  5. Diagnosis and management of barret esophagus